Suatu Sore di Depan Teras Rumahku

Ditulis Oleh: Irse Wilis 


Perkenalkan, namaku Lisa seorang perempuan mandiri yang hidup bersama keluargaku tersayang di kota Medan yang semerawut. Tinggi badanku rata-rata seperti perempuan Asia pada umumnya. Rumahku terletak di daerah Sunggal, daerah yang baru berkembang sejak lima tahun belakangan ini. Aku tinggal di salah satu komplek perumahan asri dan padat, tempat segala suku bangsa berkumpul. Di komplek ini terdiri dari beranekaragam suku bangsa, ada orang yang bersuku Batak, Jawa, Tionghoa, Aceh, Arab, Nias, dan beberapa orang Bule yang tidak tau berasal dari mana, maklum lah saya kan gak kenal semua orang  yang tinggal di komplek ini. Hihihihihi

Aku memiliki seorang teman yang bertetangga denganku. Rumahnya pas bersebelahan dengan rumahku. Namanya Jaya. Pria keturunan Tionghoa yang telah menyelesaikan studinya tahun lalu, di salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini. Jaya, pemuda yang tampan, energik, hobi traveling dan kuliner yang membuat badannya tinggi besar seperti raksasa..eee salah..seperti malaikat yang turun dari surga. Hahahahaha

Dari awal berkenalan dengannya membuatku merasa klik dengannya, pemuda low profile dengan sejuta cerita menarik dari berbagai belahan dunia yang pernah dikunjungi. Sore itu, dia datang mampir ke rumahku mungkin hendak berbagi cerita denganku.

Jaya yang baru pulang jalan-jalan menghampiriku di sore yang kelabu itu. Dengan semangat antusias dia menghampiriku dengan sebuah bungkusan menarik yang terbalut kertas kado merah, warna kesukaanku.

“Hai Jaya, Lo dari mana aja? Kok baru kelihatan?” Sapaku sedikit berteriak karena posisinya masih berada di depan pagar, sedang menutup pintu pagar; sementara aku lagi duduk nyantai di teras dengan secangkir kopi pahit yang wangi. “Hai Lisa, lo asik sendiri ya, minum kopi kagak ngajak-ngajak gue, percuma kita tetanggaan, seloroh Jaya diikuti tawanya yang membahana. Sejenak suasana teras rumahku sore itu ikut meriah dengan kehadiran sosok jenaka yang tinggal pas di sebelah rumahku.

Jaya dengan langkah tegapnya, menuju kursi teras tepat di sebelahku. Untunglah aku memiliki stok air cup yang banyak di meja teras ini, khusus bagi mereka yang suka nongkrong di teras. Aku mempersilahkan dia duduk di sebelahku sambil menyodorkan segelas air cup. “Lis, aku baru balik dari Nias, ternyata pulau kecil di ujung Sumatera itu sangat eksotis ya”, Jaya memulai obrolan di sore itu. “Ya ela Jaya, gue kirain elo ke luar negri bareng Tino sohibmu si tukang selfie itu, ternyata kamu ke pulau terpencil di pulau sumatera itu”, sahut ku tidak begitu antusias. “Lo tau gak, disana bisa diving juga lo, ada satu tempat yang pantainya seperti teluk, gak ada gelombang laut, airnya sangat tenang, dan jernih, nama pantainya Teluk Bengkuang” Jaya mulai mengeluarkan hp andoidnya yang menyimpan sejuta memori perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Satu persatu gambar pantai yang terletak di pulau Nias itu, di perlihatkannya kepadaku. “Wah menarik juga ya, tempatnya bagus dan tak seburuk perkiraanku” sahutku setengah tidak percaya melihat destini perjalanan Jaya kali ini yang sangat eksotis.

Pantai yang dikunjunginya tidak cuman satu, ada beberapa pantai yang semuanya membuat adrenalin darahku bergerak cepat, seakan perjalanan kesana sedang ku tempuh dengan imajinasi tingkat dewaku. Tiba-tiba Jaya merusak lamunanku dengan bungkusan kecil yang berwarna merah yang dibawanya tadi, yang perlahan disodorkannya ke aku. Mataku terbelalak menatap bungkusan itu, seolah tak percaya dia memberikannya untukku. “Happy Bday ya Lis, tetanggaku yang paling cantik, ini sedikit bingkisan kecil dari Pulau Nias yang kuberikan untukmu, aku gak pernah lupa loh hari jadimu” kata Jaya dengan gaya cool yang dibuat-buat.

Mukaku langsung merah padam seperti kulit kepiting yang direndam dalam kuali yang berisi air panas. “Duh...hepi banget ketika ada orang yang mengingat hari jadiku”, gumamku dalam hati. Aku, yang tak pernah bisa menyembunyikan isi hatiku lewat ekspresi wajahku, menatap Jaya dengan mata sebesar jengkol, bulat penuh dan berkaca-kaca tanda haru karena merasa dikasihi. “Thanks ya Jaya, kamu baik banget”, aku mengulurkan tanganku ke pipinya tanda cipika cipiki ala diriku.

Jaya kaget melihat ekspresiku sore itu. Mungkin, dia gak nyangka bahwa wanita tegar dan mandiri bisa juga bertingkah kekanakan ketika menerima hadiah. Dia tersenyum manis, senyumnya manis semanis chocolate milk yang biasanya menemaniku saat lagi stres. Kadang di hidup ini perlu sedikit kejutan dari orang terdekat agar hidup tak terasa membosankan, pikirku dalam hati.

Dengan sedikit penasaran, aku mulai membuka bingkisan merah itu. Taaa...raaa.. isinya sebuah miniatur rumah adat suku Nias. Bentuk atapnya bulat, dan memiliki tiang-tiang untuk menyangga bangunannya. Indah! Hanya kata itu yang terlintas dipikiranku saat memperhatikan setiap sudut dari miniatur ini. Aku menoleh ke arah Jaya dengan tatapan penuh rasa syukur karena stok pajanganku bertambah lagi. Aku merasa hepi banget dengan hadiah ulang tahunku kali ini. Jaya yang sedari tadi cuman memperhatikanku mulai mengambil air cup didepannya, dan bersiap meminumnya mungkin untuk mencegah suasana tegang yang membuatnya sedikit kikuk setelah tanganku menghampiri pipinya.

“Jaya thanks ya..miniaturnya indah banget, gue suka lo” sahut ku dengan suara antusias. Mendadak Jaya keselek air karena kalimat terakhir yang ku ucapkan yang mungkin kurang pas karena nadanya gantung. “Lo suka gue ya Lis?” Tanya Jaya setengah berharap. “Ha.. ? “ Hanya kata itu yang keluar dari mulutku yang tiba-tiba berbentuk O diikuti dengan ekspresi terkejut yang tidak dibuat-buat. “Barusan lu bilang gue suka lo” sahut Jaya mulai antusias seperti detektif yang bersiap mengobrak abrik isi hati. Aku yang masih terkejut berusaha menalarkan maksud omongannya yang sempat membuatku bingung. “ooo itu maksud gue, adalah gue suka banget sama pemberian lu, lo nya bukan menunjuk ke elu” jawabku dengan tak berperasaan. Jaya yang sudah antusias mendadak kikuk mendengar jawabanku itu. Aku yang emang mungkin mati rasa tersenyum manis seraya menoel pipinya yang chubby, “Jangan gitu la ekspresimu..jelek loh..” Sahutku dengan iringan senyum manis semanis madu.

Jaya memegang kepalanya seperti lagi gatel karena diserang kutu atau ketombe dan berusaha tersenyum walaupun tampak jelas seperti sebuah keterpaksaan, “Gue kirain... hehehehehehe” sahutnya masih seperti robot yang kehabisan baterai. Aku bergegas menyodorkan keripik yang sedari tadi teronggok manis di kolong meja, tempat biasanya aku menyembunyikan stok makananku dari serangan Ade, kakakku yang sama hobinya denganku, pemakan segala jenis kerupuk. “Silahkan dicoba Jaya, ini hasil gorenganku loh..semalam baru beli kerupuk udang di pasar, kerupuk merek baru semoga gak mengecewakan ya” sahutku dengan pedenya.

Jaya bergegas mengambil kerupuknya dan melahapnya dengan antusias, mungkin untuk mengobati kasih tak sampai yang dirasakannya.

Begitulah sepenggal kisah sore kelabu di teras depan rumahku yang maknanya: Ketika sudah dekat dengan seseorang, jangan langsung percaya kalau dia benar menyayangimu. Sekalipun hubungan kalian akrab dan romantis seperti Romeo dan Juliet, bukan berarti hatinya hanya untukmu. Cinta itu misteri yang perlu waktu untuk menunjukkan sosoknya yang sebenarnya.

Aku yang belum mengenal cinta sejati, belum berani mengatakan cinta pada orang yang menyayangiku, karena bagiku cinta butuh proses pemurnian sehingga layak untuk diikat dalam suatu hubungan spesial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar