Hubungan Antara Telepon Kak Ade Dengan Tetanggaku

Di tulis Oleh: Irse Wilis

Kring..Kring.. telepon berdering. Bunyi telepon genggam kak Ade yang mirip dengan bunyi bel sepeda mengangetkanku dan nyaris membuat toples kerupukku mendarat di lantai. “Kak Ade, ada telepon” Jeritku dengan keras seperti Tarzan yang lagi memanggil kawanan hewan yang menemaninya di hutan. Mama yang sangat tidak suka dengan suara teriakan, datang mendekatiku dan mencubitku. “Lisa, kamu sudah gede dan gak pantas untuk teriak seperti itu” suara mama menghentikan semangat teriakku kepada Kak Ade. Daripada kena ceramah dan cubitan tahap kedua, aku segera melaksanakan ultimatum dari nyokap. Dengan langkah lunglai aku bergerak ke atas, mirip suster ngesot yang kesusahan menaiki tangga.

“Kak Ade ada telepon ya... telepon genggammu ku letakkan di depan pintu ya, jangan sampai kepijak” seruku dari depan kamar kakakku tersayang. Aku masih dengan gerakan slow motion, bergerak turun bersiap merebahkan diri kembali di sofa empuk di ruang keluarga yang letaknya pas berada di bawah tangga. Kring..kring...kring.. telepon kak Ade berdering lagi, aku yang sudah mulai jengkel karena aktivitas makan kerupukku terganggu mulai teriak lagi. “Kak Ade..teleponnya tolong diangkat dong, telepon genggammu uda di depan pintu kamarmu, di jawablah...!!!” Teriakku dengan sedikit memerintah. Mama yang lagi duduk di sofa, sebelah mulai melotot ke arahku, karena suaraku sudah merusak konsentrasinya yang lagi merajut syal dengan benang wol. Aku langsung menyetop teriakanku dengan menyumpal mulutku dengan kerupuk udang yang ku sharingkan ke Jaya, kemarin sore.

Setelah beberapa menit telepon genggam kak Adepun berhenti berdering. Gosip artis yang sedang ku ikuti di televisi berhasil mencuri perhatianku untuk melupakan sejenak telepon kak Ade yang memiliki ringtone jadul ala opa-opa. Pas lagi asik-asiknya menonton berita tersebut, telepon Kak Ade berbunyi lagi. Kali ini, emosiku meledak meletup karena kakakku tidak menjawab teleponnya, dan suara teleponnya sangat mengganggu aktivitas santaiku hari itu. Dengan gerakan cepat aku berlari ke atas, dan mulai mencoba membuka pintu kamar Kak Ade. Pikirku, lebih baik telepon genggamnya kasih langsung ke tangan yang bersangkutan supaya langsung terjawab. Alangkah shocknya aku melihat kakakku terbaring lemas dengan ekspresi beku seperti mayat. Untunglah aku gak langsung teriak karena melihat kakakku dengan ekspresi seperti mayat. Aku mendekati tubuh kakakku, memanggilnya dan sekaligus mengguncang badannya. “Kak Ade..Kak Ade..napa?” seruku sedikit panik.

Suasana kamar masih senyap seolah kak Ade sedang bermimpi. “ Kak Ade..Kak Ade ada telepon loh...” aku mulai menggocang badannya dengan sedikit kuat. Kak Ade masih tak bergeming seolah kehabisan tenaga untuk menjawab pertanyaanku. “Kak Ade..Kak Ade..Kak Ade..” bisikku sedikit keras dikupingnya. Perlahan dia mulai membuka matanya yang seakan-akan seperti sedang mengangkat beban berton-ton. Matanya mulai terbuka, dan dia mulai bersuara lirih “perutku sakit banget Lis” sahutnya lemas, kemudian kembali memejamkan matanya seolah tidur adalah obat yang pas untuknya di saat ini.

Kring..Kring..Kring telepon genggam Kak Ade mulai berbunyi lagi. Aku yang kebingungan beberapa detik mulai mencoba memikirkan satu persatu apa yang harus kulakukan. Pertama, aku menjawab telepon genggam kak Ade, kedua aku memberitahu nyokap perihal kak Ade, ketiga aku berlari ke rumah Jaya meminta bantuannya untuk mengantar kami ke rumah sakit, keempat aku harus mulai bergerak sekarang! Aku pun mulai berlari ke bawah setelah telepon dari teman Kak Ade ku jawab. Aku memberitahukan kondisi kakakku ke mama. Mama yang juga kaget, lantas sedikit berlari hendak naik ke atas ke kamar kak Ade. “Hati-hati ya Ma, jangan lari! Aku ke sebelah dulu, minta tolong Jaya untuk mengantar kita ke rumah sakit”. Teriakku kepada mama.

Secepat kilat, aku berlari menuju rumah tetanggaku hendak meminta pertolongannya. Ternyata, badanku bisa diajak kerjasama juga untuk bergerak cepat, sehingga tak berapa lama kemudian aku dan Jaya sudah siap di depan pintu lengkap dengan mobil Jaya yang akan difungsikan seperti Ambulans.

Aku heran melihat mama berhasil membopong kak Ade turun sampai ke ruang keluarga. Ternyata, mama memberikan cairan oralit ke Kak Ade sehingga kak Ade memiliki tenaga untuk bergerak turun ke ruang keluarga. Aku yang tak berpikir panjang segera menghampiri kakakku, berdua bersama Jaya kami membopong kak Ade sampai ke mobil, lalu kemudian kami bergerak ke rumah sakit yang berdekatan dengan komplek rumahku.

Sesampai di depan rumah sakit, aku dan mama membopong kak Ade menuju ruangan IGD. Jaya tidak ikut karena dia harus memarkirkan mobil di tempat yang agak jauh dari pintu utama rumah sakit ini. Seorang dokter muda yang cantik melayani kami dan memeriksakan keadaan Kak Ade. Berhubung Kak Ade masih lemas, dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa hari sampai keadaan Kak Ade pulih kembali.

Lantas, aku meninggalkan mama bersama kak Ade dan bergerak ke Administrasi untuk mengurus administrasi rawat inap kakakku. Saat menuju ke ruang Administrasi, aku bertemu Jaya yang sudah kembali dari tempat parkiran. “Gimana keadaan kak Ade, Lis?” tanya Jaya dengan sedikit khawatir. “Kak Ade uda disuntik dan diberi obat, dan dokter menyarankan dia untuk rawat inap beberapa hari sampai keadaannya pulih kembali”. Jawabku pada Jaya. Dan kamipun, bergegas ke ruang administrasi untuk mengurus segala keperluan administrasi rawat inap Kak Ade.

Begitulah kejadian hari ini yang membuatku panik setengah mati. Untunglah Jaya masih ada di rumah dan belum tour kemana-mana meninggalkan kota Medan ini; sehingga kehadirannya sangat bisa diandalkan dan menjadi pertolongan bagi kami.

Aku dan Jaya bergegas menuju ruang IGD tempat kak Ade terakhir berbaring sebelum dia dipindahkan ke ruangan rawat inap.

Makna kejadian hari ini: Jika hubungan baik telah terjalin dengan tetangga maka mereka tidak akan sungkan untuk memberi bantuan ketika kita memerlukannya. Saat seperti inilah, baru bisa dirasakan bahwa kehadiran manusia  lain sangat penting dan berharga. Untuk itu, marilah berteman dengan baik dan tidak saling bermusuhan agar rasa sayang dan perhatian menjadi landasan hubungan yang telah terbina.

Persahabatan yang Unik Antara Toro dan Kino

Di tulis Oleh: Irse Wilis

Di suatu pulau terpencil hiduplah kawanan kura-kura yang suka sekali bermain di tepian sebuah danau yang sejuk. Di pulau itu, tidak terdapat manusia sehingga keadaan alam sekitar masih asri dan asli seperti pulau tak berpenghuni lainnya.

Siang itu, kura-kura jantan bernama Toro berjalan berkeliling sendiri untuk mencari makan siang untuk keluarganya. Dia meninggalkan kawanan kura-kura yang sedang bersantai ria di pinggir danau tersebut dan berjalan menuju hutan. Dengan badannya yang kecil dan tempurungnya yang besar, Toro berusaha berjalan cepat namun tak bisa cepat seperti ular atau iguana yang sering berjalan hilir mudik di hutan tersebut.

Toro menyukai kangkung dan juga wortel. Biasanya, makanan yang didapatnya akan disembunyikan di dalam tempurungnya yang besar dan kemudian di bagikan ke keluarganya. Toro adalah kura-kura yang rajin dan berani. Tidak seperti kura-kura lain yang hobinya tiduran dan bermalas-malasan di pinggir danau.

Bagi Toro, berjalan menyusuri hutan adalah perjalanan yang menantang, dan menyenangkan. Hitung-hitung untuk bakar lemak karena badannya yang semakin gemuk, sehingga kerap membuat dia kesusahan memikul tempurungnya.

Perjalanan siang itu, sungguh melelahkan, udara terasa panas dan gerah, sehingga nyaris menggoda Toro untuk kembali pulang ke pinggiran danau dan berjemur bersama kawanannya. Tiba-tiba dia tertidur akibat tidak tahan menahan kantuk yang menggodanya di siang itu.

Toro menyembunyikan badannya di dalam tempurungnya. Tak lama setelah itu, dia mulai terlelap karena hembusan angin yang bertiup perlahan-lahan. Toro hampir terlelap tapi tiba-tiba terjaga dan kaget ketika menyadari ada serangga air yang berusaha  menyerangnya.

Serangga itu, memiliki ukuran badan sebesar badan Toro dan bisa memangsa kura-kura atau ular, jika dia sedang kelaparan. Ternyata, hembusan angin yang dirasakan Toro adalah akibat gerakan dari serangga air yang berkeliling di sekitar tempurung Toro siap memangsa Toro; jika kepala Toro keluar dari tempurungnya.

“Duh, gawat nih, gimana nih” pikir Toro dalam hati. Dengan tubuh gemetar Toro berusaha bersembunyi lebih dalam lagi, agar serangga air tidak menyadari kehadirannya di tempat itu. “Kalau aku berdiam terus, mungkin dia akan segera berlalu” harap Toro dalam hati. Dengan tatapan mata yang tetap waspada, Toro memperhatikan gerak gerik yang ada di depan tempurungnya. Toro berdiam diri cukup lama, di dalam tempurungnya sampai hembusan angin tidak terasa lagi. Mungkin si serangga air sudah berlalu pikir Toro dalam hatinya.

Perlahan kaki dan tangannya keluar dari tempurung dan siap melangkah ke arah batang kayu yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini. “Kena kau..!” kata serangga air yang tiba-tiba menyerang kaki kanan Toro.  “Aduh..!” Toro berteriak kesakitan sambil berusaha menarik kembali kaki kanannya yang sudah ditangkap oleh serangga air. Peluh Toro pun menetes dengan deras karena ketakutan akan gigitan dari serangga air yang siap menyantap kakinya. Toro berusaha menarik kakinya, namun semakin kuat Toro menarik kakinya, serangga airpun semakin kuat mencengkeram kaki kanan Toro. Aksi tarik menarikpun terjadi dengan sengit karena Toro juga tak rela kehilangan sebelah kakinya.

Dengan sekuat tenaga Toro berusaha menarik kaki kanannya, dan ajaib! cengkeraman serangga air terlepas dari kaki Toro. Dan hutan itu pun kembali senyap.

Dengan tubuh yang masih bergetar karena ketakutan, Toro menjulurkan kepalanya keluar dari tempurungnya; berusaha mencari tau apa yang terjadi. Dan dari kejauhan tampak seekor elang dengan seekor binatang yang nyangkut di kaki elang tersebut. Ternyata serangga air  telah ditangkap oleh elang; yang biasanya mencari makanan di dalam hutan ini.

“Selamat deh!” jerit Toro dalam hati. Dia segera berlalu dan berusaha mengumpulkan dedaunan incarannya. Kejadian tadi, tidak membuat dia melupakan tujuannya ke hutan di siang ini. Toro, bekerja dengan gesit sehingga dedaunanpun siap diangkut kembali ke pinggiran danau.

“Hai Toro..” seru Kino dari balik dedaunan yang sedang dikumpulkan Toro. Kino merupakan siput yang suka makan daun-daunan sama seperti Toro. Toro dan Kino sering berjumpa ketika sedang mencari makanan seperti yang terjadi di siang ini. “Tadi, kamu nyaris dimangsa serangga air ya..!” seru Kino sambil terus mengunyah daun yang sedang dia santap. “Ia nih No, tadi aku gak nyangka si serangga air tiba-tiba menyerangku” jawab Toro masih dengan suara bergetar. “Sekarang serangga air sangat pandai, dia suka memancing kita keluar, sehingga pada saat kita lengah, dia akan menyerang kita” seru Kino dengan santai. “Tadi, aku memperhatikan serangga air bersembunyi di belakang kakimu; aku sudah menebak, dia pasti akan menyerang kakimu karena itu langkah awal untuk menjatuhkan musuh” lanjut Kino ibarat sedang menjelaskan suatu pertandingan tinju. “Kamu kok gak beritahu aku?, kalau bahaya sedang mengincarku” seru Toro dengan wajah setengah kecewa. “Aku lagi makan, gak bakal sempat bergerak ke arahmu karena kamu tau sendirikan, gimana cepatnya kakiku melangkah” jawab Kino dengan tawa bergetar. “Duh, kamu jahat No, seandainya serangga air memangsa kakiku, aku gak bakal bisa ketemu kamu lagi” jawab Toro dengan ekspresi wajah sedih.

Tiba-tiba tangan Kino mengelus kepala botak Toro dengan penuh kasih. “Tenang teman, aku sudah merekam kejadian ini diingatanku”, jadi aku akan menceritakan ke keluargamu seandainya kamu ada apa-apa seru Kino dengan pedenya, sambil tersenyum lebar. Dengan gerakan refleks Toro memukul antena Kino sebagai balasan atas perkataan temannya itu. “Aduh..! sakit Toro” jawab Kino dengan wajah merah seolah takut antenanya copot. “Makanya, jangan jahat sama teman supaya gak dijahati juga” jawab Toro yang masih sibuk mengumpulkan sisa dedaunan, sebelum dedaunan itu habis disantap Kino.

Kino pun menyadari temannya akan segera pergi dan berlalu dari hutan ini, tiba-tiba dia bersuara “disana ada buah strawberry, ayo kita kesana” seru Kino menawarkan diri. “Tak usah lah..dedaunan ini uda cukup kok” jawab Toro tidak antusias. “Ayolah kita kesana bentar, kamu pasti tak akan menyesal” seru Kino dengan penuh keyakinan. Sambil menarik tangan Toro, mereka segera berlalu dan menuju tempat buahan tersebut.

Sebenarnya, Toro tidak ingin mengikuti temannya ini lantaran kejadian tadi, dimana temannya sudah mengusili dia dan serasa tidak meyayanginya dan tidak menolong dia saat serangga air menyerangnya. Namun, akibat tuntutan perut akhirnya dia mengikuti saran dari temannya itu. Berdua mereka menyusuri hutan itu menuju suatu tempat yang penuh dengan buah-buahan.

“Wahh.. buah-buahannya melimpah..!” seru Toro Antusias. “Aku..kan uda bilang..” seru Kino dengan gaya pedenya. “Kamu kok bisa nemu tempat ini, No?” tanya Toro penuh selidik. “Aku maha tau” jawab Kino dengan suara tawa yang membahana. “Dasar Kino, si tukang usil dan misterius” pikir Toro dalam hati.

Toro bergegas memungut buah-buahan yang terjatuh di tanah dan segera menyimpannya dalam tempurungnya. Tak sia-sia juga mengikuti Kino teman anehnya itu, seru Toro dalam hati. Siang ini, perjalanan Toro sungguh menguras energi dan perasaannya; terlebih karena ketemu temannya yang usil ini. Toropun akhirnya bisa berbahagia karena stok makanannya menjadi lebih banyak, sehingga perjalanan hari ini rasanya tidak sia-sia.

Kino, siput yang usil yang mahatahu dan suka makan, sedang menguyah buah strawberry yang berjatuhan di tanah. Kino, lebih mengenal hutan ini karena Kino hidup di pohon yang besar yang bisa melihat tempat-tempat yang menghasilkan banyak buah/dedaunan lezat. Kino memiliki gerakan tubuh yang lamban sehingga terkesan pemalas dan tidak berperasaan seperti saat kejadian tadi. Untuk menebus rasa bersalah karena tadi tidak membantu Toro menghadapi serangga air, maka Kino menunjukkan tempat ini berharap dapat membantu terwujudnya keinginan Toro di siang ini; dan tampaknya niat baik Kino tidaklah sia-sia. Karena Toro terlihat begitu bahagia dengan buah-buahan lezat yang siap disantap.

Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kino sibuk mengunyah, sementara Toro sibuk menyusun makanan di dalam tempurungnya. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, sehingga merekapun terpaksa harus berpisah. Toro pamit kepada Kino yang masih terus mengunyah dengan semangat dan segera berlalu meninggalkan hutan menuju tepian danau tempat keluarganya berkumpul.

Begitulah persahabatan unik antara Toro dan Kino yang tidak menyimpan dendam dan saling membantu; walau dengan cara yang berbeda dan jauh dari harapan masing-masing pihak.



Suatu Sore di Depan Teras Rumahku

Ditulis Oleh: Irse Wilis 


Perkenalkan, namaku Lisa seorang perempuan mandiri yang hidup bersama keluargaku tersayang di kota Medan yang semerawut. Tinggi badanku rata-rata seperti perempuan Asia pada umumnya. Rumahku terletak di daerah Sunggal, daerah yang baru berkembang sejak lima tahun belakangan ini. Aku tinggal di salah satu komplek perumahan asri dan padat, tempat segala suku bangsa berkumpul. Di komplek ini terdiri dari beranekaragam suku bangsa, ada orang yang bersuku Batak, Jawa, Tionghoa, Aceh, Arab, Nias, dan beberapa orang Bule yang tidak tau berasal dari mana, maklum lah saya kan gak kenal semua orang  yang tinggal di komplek ini. Hihihihihi

Aku memiliki seorang teman yang bertetangga denganku. Rumahnya pas bersebelahan dengan rumahku. Namanya Jaya. Pria keturunan Tionghoa yang telah menyelesaikan studinya tahun lalu, di salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini. Jaya, pemuda yang tampan, energik, hobi traveling dan kuliner yang membuat badannya tinggi besar seperti raksasa..eee salah..seperti malaikat yang turun dari surga. Hahahahaha

Dari awal berkenalan dengannya membuatku merasa klik dengannya, pemuda low profile dengan sejuta cerita menarik dari berbagai belahan dunia yang pernah dikunjungi. Sore itu, dia datang mampir ke rumahku mungkin hendak berbagi cerita denganku.

Jaya yang baru pulang jalan-jalan menghampiriku di sore yang kelabu itu. Dengan semangat antusias dia menghampiriku dengan sebuah bungkusan menarik yang terbalut kertas kado merah, warna kesukaanku.

“Hai Jaya, Lo dari mana aja? Kok baru kelihatan?” Sapaku sedikit berteriak karena posisinya masih berada di depan pagar, sedang menutup pintu pagar; sementara aku lagi duduk nyantai di teras dengan secangkir kopi pahit yang wangi. “Hai Lisa, lo asik sendiri ya, minum kopi kagak ngajak-ngajak gue, percuma kita tetanggaan, seloroh Jaya diikuti tawanya yang membahana. Sejenak suasana teras rumahku sore itu ikut meriah dengan kehadiran sosok jenaka yang tinggal pas di sebelah rumahku.

Jaya dengan langkah tegapnya, menuju kursi teras tepat di sebelahku. Untunglah aku memiliki stok air cup yang banyak di meja teras ini, khusus bagi mereka yang suka nongkrong di teras. Aku mempersilahkan dia duduk di sebelahku sambil menyodorkan segelas air cup. “Lis, aku baru balik dari Nias, ternyata pulau kecil di ujung Sumatera itu sangat eksotis ya”, Jaya memulai obrolan di sore itu. “Ya ela Jaya, gue kirain elo ke luar negri bareng Tino sohibmu si tukang selfie itu, ternyata kamu ke pulau terpencil di pulau sumatera itu”, sahut ku tidak begitu antusias. “Lo tau gak, disana bisa diving juga lo, ada satu tempat yang pantainya seperti teluk, gak ada gelombang laut, airnya sangat tenang, dan jernih, nama pantainya Teluk Bengkuang” Jaya mulai mengeluarkan hp andoidnya yang menyimpan sejuta memori perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Satu persatu gambar pantai yang terletak di pulau Nias itu, di perlihatkannya kepadaku. “Wah menarik juga ya, tempatnya bagus dan tak seburuk perkiraanku” sahutku setengah tidak percaya melihat destini perjalanan Jaya kali ini yang sangat eksotis.

Pantai yang dikunjunginya tidak cuman satu, ada beberapa pantai yang semuanya membuat adrenalin darahku bergerak cepat, seakan perjalanan kesana sedang ku tempuh dengan imajinasi tingkat dewaku. Tiba-tiba Jaya merusak lamunanku dengan bungkusan kecil yang berwarna merah yang dibawanya tadi, yang perlahan disodorkannya ke aku. Mataku terbelalak menatap bungkusan itu, seolah tak percaya dia memberikannya untukku. “Happy Bday ya Lis, tetanggaku yang paling cantik, ini sedikit bingkisan kecil dari Pulau Nias yang kuberikan untukmu, aku gak pernah lupa loh hari jadimu” kata Jaya dengan gaya cool yang dibuat-buat.

Mukaku langsung merah padam seperti kulit kepiting yang direndam dalam kuali yang berisi air panas. “Duh...hepi banget ketika ada orang yang mengingat hari jadiku”, gumamku dalam hati. Aku, yang tak pernah bisa menyembunyikan isi hatiku lewat ekspresi wajahku, menatap Jaya dengan mata sebesar jengkol, bulat penuh dan berkaca-kaca tanda haru karena merasa dikasihi. “Thanks ya Jaya, kamu baik banget”, aku mengulurkan tanganku ke pipinya tanda cipika cipiki ala diriku.

Jaya kaget melihat ekspresiku sore itu. Mungkin, dia gak nyangka bahwa wanita tegar dan mandiri bisa juga bertingkah kekanakan ketika menerima hadiah. Dia tersenyum manis, senyumnya manis semanis chocolate milk yang biasanya menemaniku saat lagi stres. Kadang di hidup ini perlu sedikit kejutan dari orang terdekat agar hidup tak terasa membosankan, pikirku dalam hati.

Dengan sedikit penasaran, aku mulai membuka bingkisan merah itu. Taaa...raaa.. isinya sebuah miniatur rumah adat suku Nias. Bentuk atapnya bulat, dan memiliki tiang-tiang untuk menyangga bangunannya. Indah! Hanya kata itu yang terlintas dipikiranku saat memperhatikan setiap sudut dari miniatur ini. Aku menoleh ke arah Jaya dengan tatapan penuh rasa syukur karena stok pajanganku bertambah lagi. Aku merasa hepi banget dengan hadiah ulang tahunku kali ini. Jaya yang sedari tadi cuman memperhatikanku mulai mengambil air cup didepannya, dan bersiap meminumnya mungkin untuk mencegah suasana tegang yang membuatnya sedikit kikuk setelah tanganku menghampiri pipinya.

“Jaya thanks ya..miniaturnya indah banget, gue suka lo” sahut ku dengan suara antusias. Mendadak Jaya keselek air karena kalimat terakhir yang ku ucapkan yang mungkin kurang pas karena nadanya gantung. “Lo suka gue ya Lis?” Tanya Jaya setengah berharap. “Ha.. ? “ Hanya kata itu yang keluar dari mulutku yang tiba-tiba berbentuk O diikuti dengan ekspresi terkejut yang tidak dibuat-buat. “Barusan lu bilang gue suka lo” sahut Jaya mulai antusias seperti detektif yang bersiap mengobrak abrik isi hati. Aku yang masih terkejut berusaha menalarkan maksud omongannya yang sempat membuatku bingung. “ooo itu maksud gue, adalah gue suka banget sama pemberian lu, lo nya bukan menunjuk ke elu” jawabku dengan tak berperasaan. Jaya yang sudah antusias mendadak kikuk mendengar jawabanku itu. Aku yang emang mungkin mati rasa tersenyum manis seraya menoel pipinya yang chubby, “Jangan gitu la ekspresimu..jelek loh..” Sahutku dengan iringan senyum manis semanis madu.

Jaya memegang kepalanya seperti lagi gatel karena diserang kutu atau ketombe dan berusaha tersenyum walaupun tampak jelas seperti sebuah keterpaksaan, “Gue kirain... hehehehehehe” sahutnya masih seperti robot yang kehabisan baterai. Aku bergegas menyodorkan keripik yang sedari tadi teronggok manis di kolong meja, tempat biasanya aku menyembunyikan stok makananku dari serangan Ade, kakakku yang sama hobinya denganku, pemakan segala jenis kerupuk. “Silahkan dicoba Jaya, ini hasil gorenganku loh..semalam baru beli kerupuk udang di pasar, kerupuk merek baru semoga gak mengecewakan ya” sahutku dengan pedenya.

Jaya bergegas mengambil kerupuknya dan melahapnya dengan antusias, mungkin untuk mengobati kasih tak sampai yang dirasakannya.

Begitulah sepenggal kisah sore kelabu di teras depan rumahku yang maknanya: Ketika sudah dekat dengan seseorang, jangan langsung percaya kalau dia benar menyayangimu. Sekalipun hubungan kalian akrab dan romantis seperti Romeo dan Juliet, bukan berarti hatinya hanya untukmu. Cinta itu misteri yang perlu waktu untuk menunjukkan sosoknya yang sebenarnya.

Aku yang belum mengenal cinta sejati, belum berani mengatakan cinta pada orang yang menyayangiku, karena bagiku cinta butuh proses pemurnian sehingga layak untuk diikat dalam suatu hubungan spesial.