Persahabatan yang Unik Antara Toro dan Kino

Di tulis Oleh: Irse Wilis

Di suatu pulau terpencil hiduplah kawanan kura-kura yang suka sekali bermain di tepian sebuah danau yang sejuk. Di pulau itu, tidak terdapat manusia sehingga keadaan alam sekitar masih asri dan asli seperti pulau tak berpenghuni lainnya.

Siang itu, kura-kura jantan bernama Toro berjalan berkeliling sendiri untuk mencari makan siang untuk keluarganya. Dia meninggalkan kawanan kura-kura yang sedang bersantai ria di pinggir danau tersebut dan berjalan menuju hutan. Dengan badannya yang kecil dan tempurungnya yang besar, Toro berusaha berjalan cepat namun tak bisa cepat seperti ular atau iguana yang sering berjalan hilir mudik di hutan tersebut.

Toro menyukai kangkung dan juga wortel. Biasanya, makanan yang didapatnya akan disembunyikan di dalam tempurungnya yang besar dan kemudian di bagikan ke keluarganya. Toro adalah kura-kura yang rajin dan berani. Tidak seperti kura-kura lain yang hobinya tiduran dan bermalas-malasan di pinggir danau.

Bagi Toro, berjalan menyusuri hutan adalah perjalanan yang menantang, dan menyenangkan. Hitung-hitung untuk bakar lemak karena badannya yang semakin gemuk, sehingga kerap membuat dia kesusahan memikul tempurungnya.

Perjalanan siang itu, sungguh melelahkan, udara terasa panas dan gerah, sehingga nyaris menggoda Toro untuk kembali pulang ke pinggiran danau dan berjemur bersama kawanannya. Tiba-tiba dia tertidur akibat tidak tahan menahan kantuk yang menggodanya di siang itu.

Toro menyembunyikan badannya di dalam tempurungnya. Tak lama setelah itu, dia mulai terlelap karena hembusan angin yang bertiup perlahan-lahan. Toro hampir terlelap tapi tiba-tiba terjaga dan kaget ketika menyadari ada serangga air yang berusaha  menyerangnya.

Serangga itu, memiliki ukuran badan sebesar badan Toro dan bisa memangsa kura-kura atau ular, jika dia sedang kelaparan. Ternyata, hembusan angin yang dirasakan Toro adalah akibat gerakan dari serangga air yang berkeliling di sekitar tempurung Toro siap memangsa Toro; jika kepala Toro keluar dari tempurungnya.

“Duh, gawat nih, gimana nih” pikir Toro dalam hati. Dengan tubuh gemetar Toro berusaha bersembunyi lebih dalam lagi, agar serangga air tidak menyadari kehadirannya di tempat itu. “Kalau aku berdiam terus, mungkin dia akan segera berlalu” harap Toro dalam hati. Dengan tatapan mata yang tetap waspada, Toro memperhatikan gerak gerik yang ada di depan tempurungnya. Toro berdiam diri cukup lama, di dalam tempurungnya sampai hembusan angin tidak terasa lagi. Mungkin si serangga air sudah berlalu pikir Toro dalam hatinya.

Perlahan kaki dan tangannya keluar dari tempurung dan siap melangkah ke arah batang kayu yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini. “Kena kau..!” kata serangga air yang tiba-tiba menyerang kaki kanan Toro.  “Aduh..!” Toro berteriak kesakitan sambil berusaha menarik kembali kaki kanannya yang sudah ditangkap oleh serangga air. Peluh Toro pun menetes dengan deras karena ketakutan akan gigitan dari serangga air yang siap menyantap kakinya. Toro berusaha menarik kakinya, namun semakin kuat Toro menarik kakinya, serangga airpun semakin kuat mencengkeram kaki kanan Toro. Aksi tarik menarikpun terjadi dengan sengit karena Toro juga tak rela kehilangan sebelah kakinya.

Dengan sekuat tenaga Toro berusaha menarik kaki kanannya, dan ajaib! cengkeraman serangga air terlepas dari kaki Toro. Dan hutan itu pun kembali senyap.

Dengan tubuh yang masih bergetar karena ketakutan, Toro menjulurkan kepalanya keluar dari tempurungnya; berusaha mencari tau apa yang terjadi. Dan dari kejauhan tampak seekor elang dengan seekor binatang yang nyangkut di kaki elang tersebut. Ternyata serangga air  telah ditangkap oleh elang; yang biasanya mencari makanan di dalam hutan ini.

“Selamat deh!” jerit Toro dalam hati. Dia segera berlalu dan berusaha mengumpulkan dedaunan incarannya. Kejadian tadi, tidak membuat dia melupakan tujuannya ke hutan di siang ini. Toro, bekerja dengan gesit sehingga dedaunanpun siap diangkut kembali ke pinggiran danau.

“Hai Toro..” seru Kino dari balik dedaunan yang sedang dikumpulkan Toro. Kino merupakan siput yang suka makan daun-daunan sama seperti Toro. Toro dan Kino sering berjumpa ketika sedang mencari makanan seperti yang terjadi di siang ini. “Tadi, kamu nyaris dimangsa serangga air ya..!” seru Kino sambil terus mengunyah daun yang sedang dia santap. “Ia nih No, tadi aku gak nyangka si serangga air tiba-tiba menyerangku” jawab Toro masih dengan suara bergetar. “Sekarang serangga air sangat pandai, dia suka memancing kita keluar, sehingga pada saat kita lengah, dia akan menyerang kita” seru Kino dengan santai. “Tadi, aku memperhatikan serangga air bersembunyi di belakang kakimu; aku sudah menebak, dia pasti akan menyerang kakimu karena itu langkah awal untuk menjatuhkan musuh” lanjut Kino ibarat sedang menjelaskan suatu pertandingan tinju. “Kamu kok gak beritahu aku?, kalau bahaya sedang mengincarku” seru Toro dengan wajah setengah kecewa. “Aku lagi makan, gak bakal sempat bergerak ke arahmu karena kamu tau sendirikan, gimana cepatnya kakiku melangkah” jawab Kino dengan tawa bergetar. “Duh, kamu jahat No, seandainya serangga air memangsa kakiku, aku gak bakal bisa ketemu kamu lagi” jawab Toro dengan ekspresi wajah sedih.

Tiba-tiba tangan Kino mengelus kepala botak Toro dengan penuh kasih. “Tenang teman, aku sudah merekam kejadian ini diingatanku”, jadi aku akan menceritakan ke keluargamu seandainya kamu ada apa-apa seru Kino dengan pedenya, sambil tersenyum lebar. Dengan gerakan refleks Toro memukul antena Kino sebagai balasan atas perkataan temannya itu. “Aduh..! sakit Toro” jawab Kino dengan wajah merah seolah takut antenanya copot. “Makanya, jangan jahat sama teman supaya gak dijahati juga” jawab Toro yang masih sibuk mengumpulkan sisa dedaunan, sebelum dedaunan itu habis disantap Kino.

Kino pun menyadari temannya akan segera pergi dan berlalu dari hutan ini, tiba-tiba dia bersuara “disana ada buah strawberry, ayo kita kesana” seru Kino menawarkan diri. “Tak usah lah..dedaunan ini uda cukup kok” jawab Toro tidak antusias. “Ayolah kita kesana bentar, kamu pasti tak akan menyesal” seru Kino dengan penuh keyakinan. Sambil menarik tangan Toro, mereka segera berlalu dan menuju tempat buahan tersebut.

Sebenarnya, Toro tidak ingin mengikuti temannya ini lantaran kejadian tadi, dimana temannya sudah mengusili dia dan serasa tidak meyayanginya dan tidak menolong dia saat serangga air menyerangnya. Namun, akibat tuntutan perut akhirnya dia mengikuti saran dari temannya itu. Berdua mereka menyusuri hutan itu menuju suatu tempat yang penuh dengan buah-buahan.

“Wahh.. buah-buahannya melimpah..!” seru Toro Antusias. “Aku..kan uda bilang..” seru Kino dengan gaya pedenya. “Kamu kok bisa nemu tempat ini, No?” tanya Toro penuh selidik. “Aku maha tau” jawab Kino dengan suara tawa yang membahana. “Dasar Kino, si tukang usil dan misterius” pikir Toro dalam hati.

Toro bergegas memungut buah-buahan yang terjatuh di tanah dan segera menyimpannya dalam tempurungnya. Tak sia-sia juga mengikuti Kino teman anehnya itu, seru Toro dalam hati. Siang ini, perjalanan Toro sungguh menguras energi dan perasaannya; terlebih karena ketemu temannya yang usil ini. Toropun akhirnya bisa berbahagia karena stok makanannya menjadi lebih banyak, sehingga perjalanan hari ini rasanya tidak sia-sia.

Kino, siput yang usil yang mahatahu dan suka makan, sedang menguyah buah strawberry yang berjatuhan di tanah. Kino, lebih mengenal hutan ini karena Kino hidup di pohon yang besar yang bisa melihat tempat-tempat yang menghasilkan banyak buah/dedaunan lezat. Kino memiliki gerakan tubuh yang lamban sehingga terkesan pemalas dan tidak berperasaan seperti saat kejadian tadi. Untuk menebus rasa bersalah karena tadi tidak membantu Toro menghadapi serangga air, maka Kino menunjukkan tempat ini berharap dapat membantu terwujudnya keinginan Toro di siang ini; dan tampaknya niat baik Kino tidaklah sia-sia. Karena Toro terlihat begitu bahagia dengan buah-buahan lezat yang siap disantap.

Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kino sibuk mengunyah, sementara Toro sibuk menyusun makanan di dalam tempurungnya. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, sehingga merekapun terpaksa harus berpisah. Toro pamit kepada Kino yang masih terus mengunyah dengan semangat dan segera berlalu meninggalkan hutan menuju tepian danau tempat keluarganya berkumpul.

Begitulah persahabatan unik antara Toro dan Kino yang tidak menyimpan dendam dan saling membantu; walau dengan cara yang berbeda dan jauh dari harapan masing-masing pihak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar