Hubungan Antara Telepon Kak Ade Dengan Tetanggaku

Di tulis Oleh: Irse Wilis

Kring..Kring.. telepon berdering. Bunyi telepon genggam kak Ade yang mirip dengan bunyi bel sepeda mengangetkanku dan nyaris membuat toples kerupukku mendarat di lantai. “Kak Ade, ada telepon” Jeritku dengan keras seperti Tarzan yang lagi memanggil kawanan hewan yang menemaninya di hutan. Mama yang sangat tidak suka dengan suara teriakan, datang mendekatiku dan mencubitku. “Lisa, kamu sudah gede dan gak pantas untuk teriak seperti itu” suara mama menghentikan semangat teriakku kepada Kak Ade. Daripada kena ceramah dan cubitan tahap kedua, aku segera melaksanakan ultimatum dari nyokap. Dengan langkah lunglai aku bergerak ke atas, mirip suster ngesot yang kesusahan menaiki tangga.

“Kak Ade ada telepon ya... telepon genggammu ku letakkan di depan pintu ya, jangan sampai kepijak” seruku dari depan kamar kakakku tersayang. Aku masih dengan gerakan slow motion, bergerak turun bersiap merebahkan diri kembali di sofa empuk di ruang keluarga yang letaknya pas berada di bawah tangga. Kring..kring...kring.. telepon kak Ade berdering lagi, aku yang sudah mulai jengkel karena aktivitas makan kerupukku terganggu mulai teriak lagi. “Kak Ade..teleponnya tolong diangkat dong, telepon genggammu uda di depan pintu kamarmu, di jawablah...!!!” Teriakku dengan sedikit memerintah. Mama yang lagi duduk di sofa, sebelah mulai melotot ke arahku, karena suaraku sudah merusak konsentrasinya yang lagi merajut syal dengan benang wol. Aku langsung menyetop teriakanku dengan menyumpal mulutku dengan kerupuk udang yang ku sharingkan ke Jaya, kemarin sore.

Setelah beberapa menit telepon genggam kak Adepun berhenti berdering. Gosip artis yang sedang ku ikuti di televisi berhasil mencuri perhatianku untuk melupakan sejenak telepon kak Ade yang memiliki ringtone jadul ala opa-opa. Pas lagi asik-asiknya menonton berita tersebut, telepon Kak Ade berbunyi lagi. Kali ini, emosiku meledak meletup karena kakakku tidak menjawab teleponnya, dan suara teleponnya sangat mengganggu aktivitas santaiku hari itu. Dengan gerakan cepat aku berlari ke atas, dan mulai mencoba membuka pintu kamar Kak Ade. Pikirku, lebih baik telepon genggamnya kasih langsung ke tangan yang bersangkutan supaya langsung terjawab. Alangkah shocknya aku melihat kakakku terbaring lemas dengan ekspresi beku seperti mayat. Untunglah aku gak langsung teriak karena melihat kakakku dengan ekspresi seperti mayat. Aku mendekati tubuh kakakku, memanggilnya dan sekaligus mengguncang badannya. “Kak Ade..Kak Ade..napa?” seruku sedikit panik.

Suasana kamar masih senyap seolah kak Ade sedang bermimpi. “ Kak Ade..Kak Ade ada telepon loh...” aku mulai menggocang badannya dengan sedikit kuat. Kak Ade masih tak bergeming seolah kehabisan tenaga untuk menjawab pertanyaanku. “Kak Ade..Kak Ade..Kak Ade..” bisikku sedikit keras dikupingnya. Perlahan dia mulai membuka matanya yang seakan-akan seperti sedang mengangkat beban berton-ton. Matanya mulai terbuka, dan dia mulai bersuara lirih “perutku sakit banget Lis” sahutnya lemas, kemudian kembali memejamkan matanya seolah tidur adalah obat yang pas untuknya di saat ini.

Kring..Kring..Kring telepon genggam Kak Ade mulai berbunyi lagi. Aku yang kebingungan beberapa detik mulai mencoba memikirkan satu persatu apa yang harus kulakukan. Pertama, aku menjawab telepon genggam kak Ade, kedua aku memberitahu nyokap perihal kak Ade, ketiga aku berlari ke rumah Jaya meminta bantuannya untuk mengantar kami ke rumah sakit, keempat aku harus mulai bergerak sekarang! Aku pun mulai berlari ke bawah setelah telepon dari teman Kak Ade ku jawab. Aku memberitahukan kondisi kakakku ke mama. Mama yang juga kaget, lantas sedikit berlari hendak naik ke atas ke kamar kak Ade. “Hati-hati ya Ma, jangan lari! Aku ke sebelah dulu, minta tolong Jaya untuk mengantar kita ke rumah sakit”. Teriakku kepada mama.

Secepat kilat, aku berlari menuju rumah tetanggaku hendak meminta pertolongannya. Ternyata, badanku bisa diajak kerjasama juga untuk bergerak cepat, sehingga tak berapa lama kemudian aku dan Jaya sudah siap di depan pintu lengkap dengan mobil Jaya yang akan difungsikan seperti Ambulans.

Aku heran melihat mama berhasil membopong kak Ade turun sampai ke ruang keluarga. Ternyata, mama memberikan cairan oralit ke Kak Ade sehingga kak Ade memiliki tenaga untuk bergerak turun ke ruang keluarga. Aku yang tak berpikir panjang segera menghampiri kakakku, berdua bersama Jaya kami membopong kak Ade sampai ke mobil, lalu kemudian kami bergerak ke rumah sakit yang berdekatan dengan komplek rumahku.

Sesampai di depan rumah sakit, aku dan mama membopong kak Ade menuju ruangan IGD. Jaya tidak ikut karena dia harus memarkirkan mobil di tempat yang agak jauh dari pintu utama rumah sakit ini. Seorang dokter muda yang cantik melayani kami dan memeriksakan keadaan Kak Ade. Berhubung Kak Ade masih lemas, dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa hari sampai keadaan Kak Ade pulih kembali.

Lantas, aku meninggalkan mama bersama kak Ade dan bergerak ke Administrasi untuk mengurus administrasi rawat inap kakakku. Saat menuju ke ruang Administrasi, aku bertemu Jaya yang sudah kembali dari tempat parkiran. “Gimana keadaan kak Ade, Lis?” tanya Jaya dengan sedikit khawatir. “Kak Ade uda disuntik dan diberi obat, dan dokter menyarankan dia untuk rawat inap beberapa hari sampai keadaannya pulih kembali”. Jawabku pada Jaya. Dan kamipun, bergegas ke ruang administrasi untuk mengurus segala keperluan administrasi rawat inap Kak Ade.

Begitulah kejadian hari ini yang membuatku panik setengah mati. Untunglah Jaya masih ada di rumah dan belum tour kemana-mana meninggalkan kota Medan ini; sehingga kehadirannya sangat bisa diandalkan dan menjadi pertolongan bagi kami.

Aku dan Jaya bergegas menuju ruang IGD tempat kak Ade terakhir berbaring sebelum dia dipindahkan ke ruangan rawat inap.

Makna kejadian hari ini: Jika hubungan baik telah terjalin dengan tetangga maka mereka tidak akan sungkan untuk memberi bantuan ketika kita memerlukannya. Saat seperti inilah, baru bisa dirasakan bahwa kehadiran manusia  lain sangat penting dan berharga. Untuk itu, marilah berteman dengan baik dan tidak saling bermusuhan agar rasa sayang dan perhatian menjadi landasan hubungan yang telah terbina.